KRATON YOGYAKARTA

Bangunan Kraton dengan arsitektur Jawa yang agung dan elegan ini terletak di pusat Kota Yogyakarta. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1775. Beliau yang memilih tempat tersebut sebagai tempat untuk membangun bangunan tersebut, tepat di antara sungai Winongo dan sungai Code, sebuah daerah berawa yang dikeringkan.


Bangunan Kraton membentang dari utara ke selatan. Halaman depan dari Kraton disebut alun-alun utara dan halaman belakang disebut alun-alun selatan. Desain bangunan ini menunjukkan bahwa Kraton, Tugu dan Gunung Merapi berada dalam satu garis/poros yang dipercaya sebagai hal yang keramat. Pada waktu lampau Sri Sultan biasa bermeditasi di suatu tempat pada poros tersebut sebelum memimpin suatu pertemuan atau memberi perintah pada bawahannya.

Siapakah gerangan arsitek dari kraton ini? Beliau adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I sendiri. Waktu masih muda, baginda bergelar pangeran Mangkubumi Sukowati dan dapat julukan, menurut Dr.F.Pigeund dan Dr.L.Adam dimajalah Jawa tahun 1940:”de bouwmeester van zijn broer Sunan P.B II” (“arsitek dari kakanda Sri Sunan Paku Buwono II”).   Komplek kraton terletak di tengah-tengah, tetapi daerah kraton membentang antara Sungai Code dan Sungai Winanga, dari utara ke selatan adalah dari Tugu sampai Krapyak. Namun kampung-kampung jelas memberi bukti kepada kita bahwa ada hubungannya antara penduduk kampung itu dengan tugasnya di kraton pada waktu dahulu, misalnya Gandekan = tempat tinggal gandek-gandek (kurir) dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal prajurit kraton wirobrojo, Pasindenan tempat tinggal pasinden-pasinden (penyanyi-penyanyi) kraton.

Luas Kraton Yogyakarta adalah 14.000 meter persegi. Didalamnya terdapat banyak bangunan-bangunan, halaman-halaman dan lapangan-lapangan.

Kita mulai dari halaman kraton ke utara:
1. Kedaton/Prabayeksa
2. Bangsal Kencana
3. Regol Danapratapa (pintu gerbang)
4. Sri Manganti
5. Regol Srimanganti (pintu gerbang)
6. Bangsal Ponconiti (dengan halaman Kemandungan)
7. Regol Brajanala (pintu gerbang)
8. Siti Inggil
9. Tarub Agung
10. Pagelaran (tiangnya berjumlah 64)
11. Alun-alun Utara dihias dengan
12. Pasar (Beringharjo)
13. Kepatihan
14. Tugu

Angka 64 itu menggambarkan usia Nabi Muhammad 64 tahun Jawa, atau usia 62 tahun Masehi.
Kalau dari halaman kraton pergi ke selatan maka akan kita lihat:
15. Regol Kemagangan (pintu gerbang)
16. Bangsal Kemagangan
17. Regol Gadungmlati (pintu gerbang)
18. Bangsal Kemandungan
19. Regol Kemandungan (pintu gerbang)
20. Siti Inggil
21. Alun-alun Selatan
22. Krapyak

Catatan:
1. Regol =pintu gerbang
2. Bangsal =bangunan terbuka
3. Gedong =bangunan tertutup (berdinding)
4. Plengkung =pintu gerbang beteng
5. Selogilang =lantai tinggi dalam sebuah bangsal semacam podium rendah, tempat duduk Sri Sultan atau tempat singgasana Sri Sultan
6. Tratag =bangunan, biasanya tempat berteduh, beratap anyam-anyaman bamboo dengan tiang-tiang tinggi, tanpa dinding.

Komplek kraton itu dikelilingi oleh sebuah tembok lebar, beteng namanya. Panjangnya 1 km berbentuk empat persegi, tingginya 3,5 m, lebarnya 3 sampai 4 m. di beberapa tempat di beteng itu ada gang atau jalan untuk menyimpan senjata dan amunisi, di ke-empat sudutnya terdapat bastion-bastion dengan lobang-lobang kecil di dindingnya untuk mengintai musuh. Tiga dari bastion-bastion itu sekarang masih dapat dilihat. Beteng itu di sebelah luar di kelilingi oleh parit lebar dan dalam.

Lima buah plengkung atau pintu gerbang dalam beteng menghubungkan komplek kraton dengan dunia luar. Plengkung-plengkung itu adalah:
1. Plengkung Tarunasura atau plengkung Wijilan di sebelah timur laut.
2. Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat daya.
3. Plengkung Jogoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah barat.
4. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah selatan.
5. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur.


SEJARAH
Pada tahun 1955, perjanjian Giyanti membagi dua kerajaan Mataram menjadi Ksunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Pesanggrahan Ayodya selanjutnya dibangun menjadi Kraton Kasultanan Yogyakarta .

Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat dimana Kraton Yogyakarta sekarang berada merupakan daerah rawa yang dikenal dengan nama Umbul Pachetokan, yang kemudian dibangun menjadi pesanggrahan yang bernama Ayodya. Kraton Yogyakarta menghadap ke arah utara, pada arah poros Utara selatan, antara gunung merapi dan laut selatan. Di dalam balairung kraton, dapat disaksikan adegan pisowanan (persidangan agung) dimana Sri Sultan duduk di singgasana dihadap para pemangku jabatan istana.

Regol Donopratomo yang menghubungkan halaman Sri Manganti dengan halaman inti kraton, dijaga oleh 2 (dua) patung dwarapala yang diberi nama Cingkarabala dan Balaupata, yang melambangkan kepribadian baik manusia, yang selalu menggunakan suara hatinya agar selalu berbuat baik dan melarang perbuatan yang jahat. Di dalam halaman inti kraton, dapat dilihat tempat tinggal Sri Sultan yang biasa digunakan untuk menerima tamu kehormatan dan menyelenggarakan pesta. Di tempat ini juga terdapat keputren atau tempat tinggal putri-putri Sultan yang belum menikah.

Kraton Yogyakarta dibangun pada tahun 1256 atau tahun Jawa 1682, diperingati dengan sebuah condrosengkolo memet di pintu gerbang Kemagangan dan di pintu Gading Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa jawa : “Dwi naga rasa tunggal” Artinya: Dwi=2, naga=8, rasa=6, tunggal=I, Dibaca dari arah belakang 1682. warna naga hijau, Hijau ialah symbol dari pengharapan.

Disebelah luar dari pintu gerbang itu, di atas tebing tembok kanan-kiri ada hiasan juga terdiri dari dua (2) ekor naga bersiap-siap untuk mempertahankan diri. Dalam bahasa Jawa: “Dwi naga rasa wani”, artinya: Dwi=2, naga=8, rasa=6, wani=1 jadi 1682.

Tahunnya sama, tetapi dekorasinya tak sama. Ini tergantung dari arsitektur, tujuan dan sudut yang dihiasinya. Warna naga merah. Merah ialah simbol keberanian. Di halaman Kemegangan ini dahulu diadakan ujian-ujian beladiri memakai tombak antar calon prajurit-prajurit kraton. Mestinya mereka pada waktu itu sedang marah dan berani.

Jam Buka

  • Setiap hari mulai pukul 09.00 -14.00 WIB
  • Kecuali hari Jum�at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00 WIB

Harga Tiket Masuk

  • Turis lokal: Rp 7.000,00
  • Turis mancanegara: Rp. 12.500,-

Fasilitas

  • Pemandu Wisata (dikenakan biaya tambahan)
  • Toilet
  • Toko cinderamata

Kegiatan

  • Pertunjukan Gamelan pada hari senin dan selasa pukul 10.00-12.00 WIB
  • Pertunjukan Wayang Kulit pada hari sabtu pukul 09.00-13.00 WIB
  • Pertunjukan Tarian pada hari minggu dan kamis pukul 19.00-12.00 WIB
  • Pembacaan Puisi pada hari jum�at pukul 10.00-11.30 WIB
  • Pertunjukan Wayang Golek pada hari rabu pukul 09.00-12.00 WIB

Tips dan Trik

  • Jangan melakukan sesuatu yang tidak lazim ketika berada dalam area Kraton.
  • Jangan buang sampah sembarangan.
  • Dari Kraton Yogyakarta anda dapat meneruskan perjalanan wisata anda menuju Museum kereta, Taman Sari, Pasar burung Ngasem dll yang hanya berjarak sekitar satu kilometer (10 menit) dari Kraton.
  • Jika anda kecapekan, pergunakan jasa angkutan becak.

link :https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Ngayogyakarta_Hadiningrat

BUKIT BINTANG

adangkala kita ingin menikmati suasana Kota Jogja dari atas ketinggian, untuk melihat bagaimana gemerlapnya lampu di wilayah Yogyakarta. Nah beruntungnya anda yang menginginkan hal tersebut, karena di timur kota Jogja terdapat tempat wisata yang sangat favorit dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun dari luar daerah, nama kawasan wisata tersebut adalah Bukit Bintang.

Bukit Bintang Jogja ini menawarkan panorama alam yang sungguh luar biasa, karena sesuai dengan namanya ketika anda sedang berada di kawasan ini seolah-olah anda berada di angkasa dimana bisa melihat gemerlapnya bintang bintang  yang sebenarnya adalah lampu-lampu kota yang bila dilihat dari atas akan terlihat seperti bintang-bintang yang bertebaran di angkasa.

Lokasi wisata ini sungguh tiada duanya di Kota Jogja, karena Bukit Bintang Jogja mempunyai lokasi yang sangat strategis dimana berada di tepi pegunungan seribu yang menghadap langsung kota Jogja yang ada di sebelah baratnya, selain itu juga kawasan ini apabila diakses dari kota relatif tidak jauh dan tidak membuat anda capek di perjalanan.

Terlebih lagi ketika sampai di Bukit Binta Jogja anda akan disuguhi beragam jajanan kuliner yang siap memuaskan perut anda yang keroncongan.

Bukit yang memiliki nama asli sebagai Bukit Hargo Dumilah ini telah bertranformasi menjadi tempat wisata favorit di kalangan masyarakat selama beberapa tahun belakangan, setelah sebelumnya kurang mendapat perhatian dari masyarakat yang ingin lebih memilih menuju tempat-tempat wisata seperti pantai-pantai yang ada di Gunung Kidul, karena lokasi Bukit Bintang Jogja ini berada di jalur utama wisata di kawasan Yogyakarta.

Lambat laun banyak masyarakat yang menepi untuk melihat pemandangan Yogyakarta yang luar biasa dikala sore menjelang malam hari, membuat Bukit Bintang Jogja ini sekarang telah berkembang menjadi kawasan wisata yang cukup besar dengan banyaknya warung-warung makan yang menyediakan spot untuk berkumpul dan bersantap ria sambil menikmati pemandangan kota Yogyakarta dari atas ketinggian.

Apabila anda sedang di Bukit Bintang Yogyakarta, maka anda akan bisa menemukan warung dari kelas kecil yang hanya menjual beragam minuman seperti kopi sachet, jahe, teh, dan menjual makanan ringan seperti mie instant sampai dengan restauran dengan beragam menu makanan yang mewah, sehingga membuat wisatawan disediakan banyak pilihan.

Namun apabila anda hanya ingin melihat pemandangan kota Yogyakarta saja tanpa ke makan/minum di warung makan juga bisa, karena di tempat ini tersedia dudukan beton seperti jembatan yang memanjang, sebagai tempat yang asyik untuk dudukan sembari melihat suasana kota Jogja yang mengagumkan.

Kawasan wisata Bukit Bintang Jogja ini paling ramai dikunjungi saat sore dan malam hari, karena di waktu tersebut keindahan maksimal dari pemandangan kota Jogja dapat terpenuhi. Di saat sore hari menjelang malam hari jika cuaca cerah, maka anda akan bisa melihat sunset di barat kota Jogja tanpa terhalang apapun.

Kemudian setelah malam hari pemandangan akan berubah menjadi gemerlap-gemerlap lampu yang seperti bintang.

Hampir setiap hari kawasan wisata ini tidak pernah absen dikunjungi oleh wisatawan yang silih berganti ingin memandang kota Jogja dari atas ketinggian.

Diantara para wisatawatan tersebut, banyak yag ke Bukit Bintang setelah mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Gunung Kidul lainnya, karena tempat ini selain menyuguhkan pemandangan yang indah juga menjadi tempat yang sangat tepat untuk berhenti setelah melakukan perjalanan yang jauh.

Selain itu juga banyak wisatawan yang memang khusus ingin mengunjungi Bukit Bintang ini dari kota Jogja.

Karena lokasinya yang begitu memukau, membuat Pemerintah Daerah Gunung Kidul menggarap kawasan ini saat ini menjadi lebih baik lagi dengan dibangunnya kawasan rest area yang megah dengan taman yang di desain rapi tepat di kawasan Bukit Bintang Jogja ini.

Apabila anda sedang berada di Yogyakarta, maka jangan kelewatan untuk mampir ke Bukit ini jika anda ingin melihat pemandangan ribuan bintang saat malam tiba, atau jika anda yang ingin berwisata ke Yogyakarta, bisa merencanakan wisata ke Jogja yang menyenangkan karena kami spesialisasi dalam memberikan paket wisata Jogja yang terbaik untuk para wisatawan.

link :https://www.alodiatour.com/bukit-bintang-jogja/

CANDI PRAMBANAN

Sejarah

Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Indonesia. Sampai saat ini belum dapat dipastikan kapan candi ini dibangun dan atas perintah siapa, namun kuat dugaan bahwa Candi Prambanan dibangun sekitar pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu. Dugaan tersebut didasarkan pada isi Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti berangka tahun 778 Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Denah asli Candi Prambanan berbentuk persegi panjang, terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, yaitu Jaba (pelataran luar), Tengahan (pelataran tengah) dan Njeron (pelataran dalam). Halaman luar merupakan areal terbuka yang mengelilingi pelataran luar. Pelataran luar berbentuk bujur dengan luas 390 m2. Pelataran ini dahulu dikelilingi oleh pagar batu yang kini sudah tinggal reruntuhan. Pelataran luar saat ini hanya merupakan pelataran kosong. Belum diketahui apakah semula terdapat bangunan atau hiasan lain di pelataran ini.

Di tengah pelataran luar, terdapat pelataran kedua, yaitu pelataran tengah yang berbentuk persegi panjang seluas 222 m2. Pelataran tengah dahulu juga dikelilingi pagar batu yang saat ini juga sudah runtuh. Pelataran ini terdiri atas empat teras berundak, makin ke dalam makin tinggi. Di teras pertama, yaitu teras yang terbawah, terdapat 68 candi kecil yang berderet berkeliling, terbagi dalam empat baris oleh jalan penghubung antarpintu pelataran. Di teras kedua terdapat 60 candi, di teras ketiga terdapat 52 candi, dan di teras keempat, atau teras teratas, terdapat 44 candi. Seluruh candi di pelataran tengah ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yaitu luas denah dasar 6 m2 dan tinggi 14 m. Hampir semua candi di pelataran tengah tersebut saat ini dalam keadaan hancur. Yang tersisa hanya reruntuhannya saja.

Pelataran dalam, merupakan pelataran yang paling tinggi letaknya dan yang dianggap sebagai tempat yang paling suci. Pelataran ini berdenah persegi empat seluas 110 m2, dengan tinggi sekitar 1,5 m dari permukaan teras teratas pelataran tengah. Pelataran ini dikelilingi oleh turap dan pagar batu. Di keempat sisinya terdapat gerbang berbentuk gapura paduraksa. Saat ini hanya gapura di sisi selatan yang masih utuh. Di depan masing-masing gerbang pelataran teratas terdapat sepasang candi kecil, berdenah dasar bujur sangkar seluas 1, 5 m2 dengan tinggi 4 m.

Di pelataran dalam terdapat 2 barisan candi yang membujur arah utara selatan. Di barisan barat terdapat 3 buah candi yang menghadap ke timur. Candi yang letaknya paling utara adalah Candi Wisnu, di tengah adalah Candi Syiwa, dan di selatan adalah Candi Brahma. Di barisan timur juga terdapat 3 buah candi yang menghadap ke barat. Ketiga candi ini disebut candi wahana (wahana = kendaraan), karena masing-masing candi diberi nama sesuai dengan binatang yang merupakan tunggangan dewa yang candinya terletak di hadapannya.

Candi yang berhadapan dengan Candi Wisnu adalah Candi Garuda, yang berhadapan dengan Candi Syiwa adalah Candi Nandi (lembu), dan yang berhadapan dengan Candi Brahma adalah Candi Angsa. Dengan demikian, keenam candi ini saling berhadapan membentuk lorong. Candi Wisnu, Brahma, Angsa, Garuda dan Nandi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yaitu berdenah dasar bujur sangkar seluas 15 m2 dengan tinggi 25 m. Di ujung utara dan selatan lorong masing-masing terdapat sebuah candi kecil yang saling berhadapan, yang disebut Candi Apit.

Kisah Ramayana

Pembuka
Prabu Janaka, Raja kerajaan Mantili memiliki putri bernama Dewi Shinta. Sebuah sayembara diadakan raja untuk mencari calon suami untuk Dewi Shinta. Pangeran dari kerajaan Ayodya Raden Rama Wijaya, memenangkan sayembara tersebut. Sementara itu Prabu Rahwana, pemimpin kerajaan Alengka juga ingin menikahi Dewi Shinta. Rahwana percaya bahwa Shinta adalah reinkarnasi dari Widowati, seseorang yang telah lama ia inginkan.

Hutan Dandaka.

Rama dan Shinta ditemani Lakshmana sedang berjalan di hutan Dandaka. Di sana Rahwana diam-diam mengamati Shinta dan ingin mendapatkannya. Rahwana memerintah salah satu pengikutnya untuk menjadi Kijang Kencana untuk menarik perhatian Shinta. Shinta yang tertarik kepada Kijang Kencana kemudian meminta Rama untuk menangkap kijang tersebut. Rama kemudian meninggalkan Lakshmana dan Shinta untuk memburu Kijang Kencana. Lama tak kembali, Shinta khawatir dan mengutus Lakshmana untuk menyusul Rama. Lakshmana kemudian menggambar lingkaran ajaib disekitar Shinta untuk melindunginya. Rahwana kemudian mencoba menculik Shinta setelah ia ditinggal sendirian, namun gagal karena lingkaran ajaib tersebut. Rahwana kemudian berubah menjadi seorang pengemis tua, Shinta yang merasa kasihan keluar dari lingkaran untuk menolong pengemis tersebut. Setelah Shinta keluar dari lingkaran, Rahwana kemudian menculik Shinta dan membawanya ke Alengka.

Menangkap Kijang Kencana.
Rama memanah kijang dengan panah ajaibnya, namun si kijang berubah menjadi seorang Raksasa (Marica). Pertarungan terjadi antara Rama dan Marica, Rama mengalahkan Marica dengan tembakan panah. Setelah itu Lakshmana kemudian meminta Rama untuk kembali ke tempat Shinta.

Penculikan Shinta

Dalam perjalanannya ke Alengka, Rahwana bertemu seekor burung bernama Jatayu. Jatayu mengenali Shinta sebagai putri Prabu Janaka kemudian berusaha membebaskannya, namun ia dikalahkan oleh Rahwana. Sementara itu Rama yang baru sadar bahwa Shinta telah hilang bertemu dengan Jatayu yang terluka. Rama yang marah mengira Jatayu yang menculik Shinta dan berusaha membunuhnya, namun dicegah oleh Lakshmana. Jatayu kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mati. Beberapa saat kemudian, seekor kera putih bernama Hanuman datang. Hanuman diutus oleh pamannya Sugriwa untuk mencari bantuan agar dapat membunuh Subali. Subali adalah orang yang menculik Dewi Tara, wanita kesayangan Sugriwa. Rama kemudian memutuskan untuk membantu Hanuman melawan Subali.

Gua Kiskendo 
Sugriwa sampai di Gua Kiskendo dengan bantuan Rama. Sugriwa kemudian mengalahkan Subali dan menyelamatkan Dewi Tara. Sebagai ucapan terima kasih, Sugriwa membantu Rama untuk mencari Sinta dengan mengirimkan Hanuman sebagai utusan menuju kerajaan Alengka.

Taman Argasoka
Keponakan Rahwana, Trijata bertugas menemani dan menenangkan Shinta di taman. Rahwana meminta Shinta untuk menjadi istrinya, namun Shinta selalu menolak. Rahwana marah sampain ingin membunuh Shinta, namun ia selalu dicegah oleh Trijata. Shinta kemudian mendengar nyanyian yang berasal dari Hanuman. Hanuman memberi tahu Shinta bahwa ia diutus oleh Rama untuk menolongnya. Hanuman kemudian merusak taman Alengka. Indrajid, anak dari Rahawana menangkap Hanuman. Kumbakarna yang berusaha menolong Hanuman malah diusir keluar kerajaan. Hanuman yang divonis untuk dibakar hidup-hidup kemudian membakar istana Alengka bersama tubuhnya yang terbakar.

Jembatan Rama
Setelah mengutus Hanuman, Rama beserta pasukan kera membangun jembatan menuju Alengka. Setelah jembatan itu jadi Hanuman kembali dan memberikan kabar tentang kekuatan pasukan Alengka. Rama kemudian memberikan perintah kepada Hanuman, Hanggada, Hanila, dan Jambawan untuk menyerang Alengka.

Perang Besar
Perang Besar terjadi antara pasukan raksasa Alengka dengan pasukan kera Rama. Dalam pertarungan ini, Indrajid terbunuh oleh Lakshmana, Kumbakarna, adik Rahwana juga terbunuh. Rahwana kemudian terbunuh oleh panah Rama dan Gunung Sumawana yang dilempar oleh Hanuman.

Pertemuan Rama dan Shinta
Setelah kekalahan Rahwana, Shinta akhirnya bertemu kembali dengan Rama. Namun Rama menolak kembalinya Shinta karena khawatir ia sudah tidak suci lagi. Untuk membuktikan kesuciannya, Shinta membakar dirinya sendiri. Dengan bantuan dari dewa api, Shinta selamat dari luka bakar. Pembuktian Shinta membuat Rama bahagia dan menerima Shinta kembali.

link :http://borobudurpark.com/temple/prambanan/

MALIOBORO

Malioboro merupakan kawasan perbelanjaan yang legendaris yang menjadi salah satu kebanggaan kota Yogyakarta. Penamaan Malioboro berasal dari nama seorang anggota kolonial Inggris yang dahulu pernah menduduki Jogja pada tahun 1811 – 1816 M yang bernama Marlborough

Kolonial Hindia Belanda membangun Malioboro di pusat kota Yogyakarta pada abad ke-19 sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian. Secara simbolis juga bermaksud untuk menandingi kekuasaan Keraton atas kemegahan Istananya yang mendominasi kawasan tersebut.

Untuk menunjang tujuan tersebut maka selanjutnya Kolonial Belanda mendirikan :

  • Benteng Vredeburg, ( didirikan pada tahun 1765. Sekarang benteng tersebut dikenang menjadi sebuah museum yang di buka untuk wisata publik )
  • Istana Keresidenan Kolonial ( sekarang menjadi Istana Presiden Gedung Agung di tahun 1832M )
  • Pasar Beringharjo, Hotel Garuda ( dahulu sebagai tempat menginap dan berkumpul para elit kolonial.
  • Kawasan Pertokoan Malioboro ( menjadi pusat perekonomian kolonial )

Bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di kawasan Malioboro tersebut menjadi saksi bisu perjalanan kota ini dari masa ke masa.

Malioboro menyajikan berbagai aktivitas belanja, mulai dari bentuk aktivitas tradisional sampai dengan aktivitas belanja modern. Salah satu cara berbelanja di Malioboro adalah dengan proses tawar-menawar terutama untuk komoditi barang barang yang berupa souvenir dan cenderamata yang dijajakan oleh pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang trotoar jalan Malioboro. Berbagai macam cederamata dan kerajinan dapat anda dapatkan disini seperti kerajinan dari perak, kulit, kayu, kain batik, gerabah dan sebagainya.

Anda jangan heran melihat harga barang ditempat ini, misalnya penjual souvenir menawarkan barang tersebut seharga Rp.50.000,- Kalau anda tertarik barang tersebut maka tawaran tersebut harus segera disusul dengan proses tawar menawar dari wisatawan. Dari proses tersebut harga menjadi turun drastis, misalnya pedagang tersebut akhirnya rela melepas barang tersebut dengan harga Rp.20.000,-. Hal ini juga berlaku bila wisatawan berkunjung dan belanja di pasar tradisional Beringharjo yang letaknya tak jauh dari Malioboro. Begitulah keunikan tradisi dari wisata belanja di Malioboro, pembeli harus bisa tawar menawar.

Kawasan Malioboro dekat dengan obyek wisata sejarah lainya yang sangat banyak menyimpan cerita sejarah yang menarik. Setelah anda berbelanja di Malioboro anda bisa meneruskan mengunjungi obyek wisata lain yang jaraknya cukup dekat. Tempat dan obyek wisata tersebut seperti berwisata arsitektur peninggalan kolonial Belanda dan wisata belanja tradisional lainnya. Obyek wisata sejarah yang berdekatan dengan Malioboro seperti : Keraton Yogyakarta, Alun-alun Utara, Masjid Agung, Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo dan Kampung Kauman.

Wisata Arsitektur peninggalan kolonial di Yogyakarta yang masih bisa disaksikan seperti Gedung Siciatet ( sekarang menjadi Taman Budaya ), Bank Indonesia, Hotel Inna Garuda dan Bank BNI’46. Sedangkan wisata belanja tradisional yang cukup berdekatan dengan Malioboro terdapat di Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo. Terdapat juga perpustakaan umum milik Pemerintah Provinsi DIY bagi wisatawan yang gemar membaca.

Wisatawan juga dapat menyaksikan kekhasan lain dari Malioboro seperti puluhan andong dan becak yang parkir berderet disebelah kanan jalan pada jalur lambat Malioboro. Sedangkan pada sebelah kiri jalan wisatawan dapat melihat ratusan kendaraan bermotor yang diparkir berjajar yang menjadi tanda bahwa Malioboro merupakan kawasan yang banyak menyedot para pengunjung.

Aktivitas wisatawan di Malioboro tidak hanya pada siang hari saja, akan tetapi di kawasan Malioboro ini aktivitas wisata akan terus berlanjut dengan adanya nuansa makan malam yang disediakan warung-warung yang bermunculan pada malam hari, terutama setelah pukul 21.00 WIB. Sambil menyantap hidangan di warung lesehan Malioboro, wisatawan akan dihibur oleh musisi jalanan yang mengunjungi lesehan tersebut sambil mengalunkan lagu-lagu tertentu.

Lokasi

Alamat : Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta Deaerah Istimewa Yogyakarta.

Akses

Malioboro merupakan kawasan wisata yang menjadi andalan dari kota yogyakarta sehingga banyak cara untuk sampai ketempat ini. Dari Terminal Giwangan atau halte yang tersebar di kota Yogyakarta menggunakan bus kota jalur 4 dan bus Transjogja trayek 3A atau 3B.

Wisatawan juga bisa menggunakan jasa taksi dengan memesan via telepon maupun bisa mencegatnya di pinggir jalan. Bisa juga menggunakan andong atau becak sambil menikmati suasana kota Yogyakarta.

Harga Tiket

Kawasan Malioboro merupakan tempat umum sehingga wisatawan tidak dikenakan biaya, hanya dikenakan biaya perkir kendaraan.

Fasilitas

Fasilitas dan akomodasi sebagai sarana penunjang yang mendukung sektor kepariwisataan di tempat ini sudah sangat lengkap. Hotel berbintang lima sampai dengan hotel kelas melati banyak tersedia disekitar tampat ini seperti di Jalan Mangkubumi, Jalan Dagen, Jalan Sosrowijayan, Jalan Malioboro, Jalan Suryatmajan dan Jalan Mataram. Atau mencari penginapan di bagian barat, yaitui di Jalan Ngasem dan daerah Wijilan yang letaknya tidak jauh dari Malioboro.

Rumah makan pun banyak tersebar di wilayah ini dengan menu dan selera yang sangat beragam mulai dari warung angkringan ( warung berbentuk gerobak yang menyediakan makanan lokal ), masakan khas Yogyakarta yang disajikan dalam suasana lesehan seperti gudeg, nasi goreng, sambel+lalapan dan sebagainya. Tersedia juga restoran atau cafe yang menyediakan makanan masakan cina, fast food atau masakan ala barat berupa steak, beef lasagna dan lain-lain.

Fasilitas lain berupa tempat ibadah, polisi pariwisata, pos informasi, kios money changer, ATM, warnet, tampat parkir dan lain-lain. Tersedia juga kios yang menyediakan oleh –oleh makanan khas Yogyakarta yang berada di Jalan Mataram atau sebelah barat Malioboro yang menyediakan beragam jenis dan bentuk oleh-oleh dan penganan khas Jogja seperti yangko, geplak, bakpia, berbagai jenis keripik dan lain-lain.

link :https://www.njogja.co.id/kota-yogyakarta/malioboro-yogyakarta/

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.